Gue baru aja ngetik email. Bukan email biasa. Tapi email tanpa AI. Manual. Dari awal sampai akhir. Gue pusing. Bukan karena emailnya sulit. Tapi karena otak gue terasa berkarat. Gue lupa kata. Gue lupa struktur. Gue lupa cara menulis yang baik. Setelah bertahun-tahun dibantu AI, gue kehilangan kemampuan dasar. Dulu, ngetik email *5* menit. Sekarang, *30* menit. Dulu, kata mengalir. Sekarang, gue terus berhenti, mikir, nanya diri, “Ini bahasa Indonesia yang benar nggak si?” Gue nggak sendirian. Maret 2026 ini, ada fenomena yang makin mengkhawatirkan. Digital amnesia. Bukan lupa password. Bukan lupa file di mana. Tapi lupa kemampuan dasar. Cara menulis. Cara mengeja. Cara menyusun kalimat. Cara berpikir kritis. Semua yang dulu biasa, sekarang terasa asing. Bukan karena malas. Bukan karena tua. Tapi karena AI. AI yang bantu kita setiap hari. AI yang tulis email. AI yang buat laporan. AI yang bikin presentasi. AI yang bantu kita berpikir. Dan kita nggak sadar. Perlahan, otak kita berhenti bekerja. Perlahan, otak kita mengalami atrofi. Atrofi kognitif. Atrofi yang disebabkan bukan oleh penyakit. Tapi oleh kemudahan. Digital Amnesia: Ketika Otak Berhenti Bekerja Gue ngobrol sama tiga orang yang merasakan gejala digital amnesia. Cerita mereka mirip. Menyakitkan. 1. Andra, 34 tahun, manajer pemasaran yang sehari-hari menggunakan AI untuk menulis laporan. Andra mengandalkan AI untuk semua tulisan. Email. Laporan. Proposal. Presentasi. Semua dibantu AI. “Gue nggak nyadar sampai suatu hari AI error. Gue harus nulis laporan sendiri. Gue duduk di depan laptop. Gue pusing. Gue nggak bisa mulai. Gue nggak bisa nyusun kalimat. Gue nggak bisa nemuin kata. Gue nggak bisa berpikir.” Andra menyadari ada yang salah. “Gue biasa ngerjain ini dulu. Gue bisa nulis laporan dengan cepat. Tapi setelah *3* tahun dibantu AI, otak gue seperti berhenti. Gue lupa. Lupa cara menulis. Lupa cara berpikir. Gue takut. Gue bertanya: ‘Apa yang terjadi pada otak gue?’“ 2. Dina, 28 tahun, desainer grafis yang …








